Subscribe Berita Terbaru
Masukkan alamat email Anda dan berlangganan berita terbaru kami

Masukkan alamat email Anda dan berlangganan berita terbaru kami

Hal itu ditegaskannya pada rapat lintas program dan sektor, dalam rangka percepatan penurunan stunting, di Hotel @Hom, Rabu (1/2/2023). Menurutnya, dengan menggerakkan semua kader Posyandu, seluruh sasaran, yakni balita 0-59 bulan bisa datang ke Posyandu dan terdata, untuk menciptakan data yang valid terkait angka stunting.
Dari hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Jawa Tengah, kasus stunting di Kabupaten Kudus mengalami peningkatan dari 17,6 persen pada 2021, naik menjadi 19 persen pada 2022. Dengan kenaikan sebesar 1,4 persen, pihaknya meminta unsur terkait untuk evaluasi bersama. “Kita dorong peran masing-masing supaya ke depannya stunting datanya lebih valid untuk penanganan maksimal,” katanya.

Untuk memastikan penimbangan serentak mendapat hasil yang diharapkan, Mawar meminta pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus untuk melakukan verifikasi sesuai standar, dalam mengukur dan menimbang balita. Pasalnya, hasil tersebut akan menjadi acuan untuk evaluasi ke depannya.
“Pertemuan bukan cuma formalitas tapi langsung action. Untuk posyandu yang dari segi peralatan belum lengkap, bisa dikomunikasikan dengan OPD untuk fasilitasi,” pesannya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Andini Aridewi menyampaikan, penimbangan secara serentak pada Februari ini bertujuan untuk deteksi dini kasus stunting. Sehingga, upaya penanganan stunting dalam bentuk promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif bisa maksimal. Penimbangan serentak secara rutin dilakukan setiap tahunnya pada Februari dan Agustus.
“Upaya awal deteksi dini kasus stunting di Kabupaten Kudus. Kolaborasi bersama kita lakukan bersama unsur terkait agar bisa optimal,” jelasnya.
Sumber : https://jatengprov.go.id/